Tuesday, 11 June 2013

17 September 1982, Peristiwa Hitam Sabra & Syatila


                            

Anggaran mangsa yg terlibat adalah berbeza-beza. Menurut laporan perisikan Amerika ia dianggarkan dari jumlah 800 hingga 1000 orang yg syahid, akan tetapi saksi-saksi yg terdiri dari para wartawan dan mereka-mereka yg terselamat dari tragedi tersebut bersetuju tanpa berbelah bagi bahawa jumlah mereka yg syahid dianggarkan diantara 2,000 sehingga ke 3,000 orang.

Jika terdapat perbezaan diantara bilangan mangsa tragedi, maka sudah pasti bahawa kubur para syuhada' di Syatila dan Sabra yg bertempat di Khemah Selatan TIDAK mengandungi semua mereka-mereka yg syahid, tetapi ia hanya mengandungi mayat-mayat yg tidak ditanam sebelum perkara ini diketengahkan.



"Pembunuhan yg drastik selama 38 jam tidak mengenal antara lelaki dan perempuan, atau diantara orang-orang tua dan kanak-kanak. Ia merupakan satu tragedi pembunuhan yg dirancang oleh hati yg busuk/sakit Menteri Pertahanan Israel pada masa itu, Ariel Sharon. Begitu juga dengan pembunuh kejam Elie Hebaika, Presiden Sistem Keselamatan pasukan Tentera Lebanon. " 


Peristiwa memilukan yang tidak mungkin terhapus dari ingatan, pembantaian 16 September 1982, masih segar dalam memori warga Palestin yang penuh dengan penderitaan dan sarat dengan bencana dan kemunduran, kerana penjajah Zionis masih bermaharajalela sehingga sekarang. Ariel Sharon dan tenteranya melakukan pembantaian paling biadab terhadap penghuni perkhemahan pelarian Palestin di kawasan Shabra dan Syatila di Libanon. Ribuan nyawa melayang di tangan makhluk-makhluk kejam. Tempat-tempat tinggal dirobohkan, sementara para penghuninya ada di dalamnya. Ini bukan sahaja buat pertama kali didalam sejarah rakyat Palestine tetapi ia merupakan sejarah dunia.


Pada 16 September, pada tahun 1982,
Tragedi tersebut telah berjalan menurut yg di rancangkan: Pasukan Brigade memecah masuk ke dua kem-kem tersebut bersama-sama dengan askar-askar penceroboh (Israel), menghalang mereka dari meninggalkannya atau masuk kedalamnya, sambil askar-askar tersebut melancarkan ledakan bom-bom yg memancar-mancar sebagaimana kehendak misi Bridge tersebut.

"Setelah tragedi tersebut, pemandangannya sangatlah menyayatkan hati : longgokkan kepala kanak-kanak....Mangsa-mangsa keganasan bersepah-sepah di merata-rata tempat.... pembunuhan sekeluarga mangsa yg sedang menikmati hidangan malam.... yg lain di bunuh diatas katil kepunyaan mereka. Mangsa-mangsa adalah dari orang-orang awam yg terdiri dari kanak-kanak, orang perempuan dan orang-orang tua."

                                      

Shabra dan Syatila setelah penyerbuan Israel
Israel mulai meninggalkan Beirut tak lama setelah berita tentang pembantaian itu menyebar. Perlindungan kamp-kamp itu dipercayakan kepada Italia. Setelah sejumlah serangan atas pasukan penjaga perdamaian, Italia meninggalkan Lebanon. Keamanan kamp-kamp itu kemudian dipercayakan kepada milisi Amal.
Shabra dan Syatila di Pengadilan Belgia
Setelah terpilihnya Sharon pada tahun 2001 sebagai Perdana Menteri Israel, kaum keluarga para korban pembantaian ini mengajukan tuntutan di Belgia dan menuduh bahwa ia secara pribadi bertanggung jawab atas pembantaian-pembantaian itu, dengan menggunakan undang-undang yang pertama kali digunakan terhadap mereka yang terlibat dalam Genosida Rwanda. Mahkamah Agung Belgia memutuskan pada 12 Februari 2003 bahwa Sharon (dan mereka yang terlibat lainnya, seperti Jenderal Yaron dari Israel) dapat dikenai tuntutan di bawah tuduhan ini. Israel mengklaim bahwa tuntutan ini dilakukan dengan alasan-alasan politis.
Sebuah kasus lain diajukan di Belgia yang menyatakan bahwa Presiden George H. W. Bush dan Menteri Luar Negeri Colin Powell bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan perang dalam Perang Irak pertama. AS mempertanyakan yurisdiksi pengadilan Belgia untuk mengadili kejahatan-kejahatan perang yang dilakukan di tempat lain, dan meminta sekutu-sekutu Eropanya untuk menekan Belgia serta mengancam untuk memindahkan markas besar NATO dari Belgia. Selain itu sejumlah kasus lainnya terhadap para pemimpin dunia, seperti Fidel Castro, Augusto Pinochet, dan Yasser Arafat, juga diajukan di pengadilan Belgia, hingga menimbulkan sejumlah masalah diplomatik. Akhirnya Belgia mengamandemen hukumnya dan menyatakan bahwa pengaduan-pengaduan hak asasi manusia hanya bisa diajukan apabila korban atau tertuduhnya adalah warga Belgia atau sudah lama menjadi penduduk negara itu pada waktu kejahatan yang dituduhkan itu terjadi. Parlemen Belgia juga menjamin kekebalan diplomatik bagi para pemimpin dunia dan pejabat pemerintahan lainnya yang berkunjung ke negara itu.
Elie Hobeika, komandan Falangis pada waktu pembantaian itu tidak pernah diadili dan ia memegang jawaban menteri di pemerintahan Lebanon pada tahun 1990-an. Ia dibunuh dengan sebuah bom mobil di Beirut pada 24 Januari 2002, sementara ia bersiap-siap untuk memberikan kesaksian dalam sebuah peradilan Sharon.
Pada 24 September 2003, pengadilan tertinggi Belgia menolak pengaduan kejahatan perang terhadap Ariel Sharon, dan menyatakan bahwa pengaduan itu tidak mempunyai basis hukum untuk dijadikan tuntutan.

No comments:

Post a Comment